by

Dua Gurandil di Bogor Diringkus, Ini Temuan Polisi

BOGOR-Aparat kepolisian Bogor meringkus dua pelaku gurandil. Keduanya diduga ikut menjadi penyebab banjir bandang dan longsor. Bagaimana kronologisnya?

Kedua orang pelaku itu berinisial MAR (24) dan ATA (33), warga asal Desa Banyu Resmi, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Mereka ditangkap saat sedang beroperasi di lubang galian emas liar.

“Saat itu kami sedang melakukan pemantauan di daerah barat Kabupaten Bogor terkait adanya dugaan tindak pidana penambangan emas ilegal (gurandil), sebagaimana dimaksud dalam pasal 158 Jo Pasal 37 dan atau Pasal 161 UU Republik Indonesia nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara dengan ancaman hukuman penjara 10 tahun,” ucap Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni kepada wartawan di Mako Polres Bogor, Cibinong, Senin, (13/1).

BACA JUGA

Polisi Ciduk Dua Gurandil, Diduga Ikut Sebabkan Bencana Bogor
Ketika ‘Preman Pensiun’ Bantu Hilangkan Trauma Warga Sukajaya
Pascabencana, Akses Jalan dan Pasokan Listrik Belum Normal
Pria asli Palembamg ini menerangkan kronologis penangkapan, awalnya jajarannya melihat adanya aktivitas penambangan dan pengolahan tambang emas yang mencurigakan di Kampung Cililin Sabrang, Desa Banyuresmi, lalu pihaknya langsung mengamankan para pelaku.

“Para pelaku dalam melakukan aksi PETI tanpa memiliki dokumen IU/IUPK dan IPR, pada 3 lokasi di antaranya Gunung Puntang, Lubang Cingalang dan Lubang Cisapon Desa Banyuresmi Kecamatan Cigudeg. Dari kedua pelaku MAR dan ATA berhasil diamankan sejumlah barangbukti berupa 80 karung bahan emas, 70 buah gelundung alat pengolah emas, 5 buah mesin penggerak alat pengolah emas, 5 buah poli, 2 buah tabung gas ukuran 50Kg, 2 buah tabung gas ukuran 3Kg, buah alat 2 pengolah emas Gembosan, 1 buah alat timbangan, 1/2 karung kowi dan uang tunai senilai Rp1,6 juta,” terangnya.

Temuan pihak kepolisian ini selaras pula dengan penciuman Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebelumnya. Menteri LHK Siti Nurbaya menyatakan salah satu penyebab bencana banjir bandang dan longsor di wilayah Bogor Barat, adalah kerusakan hutan akibat perambahan hutan ilegal dan penambangan liar.

“Tim penegakan hukum dari Kementerian LHK sedang turun ke lokasi untuk melakukan investigasi,” kata Siti Nurbaya ketika mengunjungi kebun bibit di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, akhir pekan lalu.

Siti Nurbaya mengatakan hal itu menjawab pertanyaan wartawan yang menanyakan apa penyebab banjir dan longsor yang terjadi wilayah Bogor Barat yang meliputi Kecamatan Sukajaya, Cigudeg, Jasinga, dan Nanggung, serta langkah-langkah mengatasi bencana tersebut.

Menurut Siti Nurbaya, penyebab banjir dan longsor di di kawasan Halimun-Salak, Bogor, dengan penyebab banjir di Jakarta, itu berbeda.

Siti Nurbaya menjelaskan, di kawasan hutan lindung Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS), luasnya sekitar 87.000 hektar. “Dari luas hutan lindung tersebut, ada sekitar 15.000 hektar yang saat ini sudah terbuka, akibat perambahan hutan ilegal dan penambangan liar,” katanya.

Menurut Siti Nurbaya, tim penegakan hukum dari Kementerian LHK sedang turun ke lokasi terdampak bencana, melakukan investigasi. Kementerian LHK juga telah memanggil dan beberapa orang terkait kerusakan hutan di kawasan TNGHS.

Ketika ditanya, bagaimana langkah-langkah yang dilakukan dalam mengatasi bencana banjir dan longsor di hulu sungai di Bogor itu, Siti Nurbaya menjelaskan beberapa langkah-langkahnya.

Pertama, adalah penanaman kembali kawasan hutan yang rusak dan terbuka. Kedua, melakukan rehabilitasi hutan dan lahan. “Langkah lainnya, melakukan penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan.”

Bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Sukajaya, Cigudeg, Jasinga, dan Nanggung, pada 1 Januari lalu akibat longsor di tiga gunung yakni Gunung Handarusa, Gunung Batu, dan Gunung Cabe

Comment

News Feed