by

Biar Tekor Asal Sohor

(SEBUAH CARA PANDANG POSITIF DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN DAERAH)

Inka (Iin Kamaluddin)*
Kasubag Prolap DPMD Kab. Bogor

“Biar tekor asal sohor”, slogan ini konon melekat pada kehidupan orang Bogor, entah bagaimana mulanya slogan itu ada, siapa yang mula-mula memunculkannya dan dimana lokasinya, entahlah..?

Tapi bukan itu yang akan diulas dalam tulisan ini, akan tetapi yang akan coba diulas adalah bagaimana memaknai slogan itu dan Palsafah apa yang terkandung di dalamnya.

“Biar Tekor Asal Sohor”, jika dibaca sekilas konotasinya terasa negatif, seolah-olah didalamnya ada kesan kesombongan, kenapa begitu ..? coba kita artikan secara sekilas dan sederhana saja slogan itu. “Tekor” berarti Kekurangan, “Sohor” berarti Terkenal. Dua kata tersebut diawali dengan kata Biar dan Asal, sehingga ada penekanan yang jelas terhadap Kata Tekor dan Sohor itu, dengan demikian pengertian secara sederhananya berbunyi walaupun susah atau kekurangan pokoknya terkenal.

Dari pengertian itu, konotasi kesombonganya terletak pada kata pokoknya terkenal, seolah semua tujuan dilakukan yang penting terkenal dengan menafikan yang lainnya, walaupun keadaannya serba susah atau kekurangan. Itu kira-kira pandangan atau konotasi negatif yang terbangun selama ini. Sekarang mari kita maknai slogan itu dengan pandangan yang positif, kemudian kaitkan dengan kehidupan masyarakat Bogor dan kita bahas dalam konteks pembangunan masyarakat Kabupaten Bogor, kenapa begitu? Karena diyakini bahwa slogan itu tertuju bukan hanya bagi individu-individu saja akan tetapi merupakan satu kesatuan masyarakat, artinya slogan itu tidak terlepas dari seluruh pemangku kepentingan yang ada di masyarakat Bogor.

Pandangan positif terhadap slogan “Biar Tekor Asal Sohor”, cara pemaknaannya sama dengan pandangan negatif yang diulas diatas. Mari kita coba maknai dari dua kata kunci yaitu Tekor dan Sohor. Dalam pandangan positif kata Tekor mengandung makna penuh perjuangan dan pengorbanan, sedangkan kata Sohor mengandung makna transparansi dan kesejahteraan, adapun kata yang mengawali kedua kata tersebut yaitu kata Biar dan Asal semakin mempertegas makna perjuangan atau pengorbanan itu sendiri, jadi pengertian slogan “Biar Tekor Asal Sohor” dalam pandangan positif adalah bahwa walaupun dalam keadaan kekurangan atau keterbatasan tidak masalah yang penting ada keterbukaan untuk kesejahteraan masyarakat.

Lebih jauh lagi pemaknaannya adalah bahwa dalam keadaan kekurangan atau keterbatasan jangan dijadikan penghalang untuk terus berjuang dan tentu saja dalam perjuangan selalu ada pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan tentu tidak akan sia-sia apabila tujuannya adalah untuk kesejahteraan masyarakat, pertanyaaanya kemudian adalah : kesejahteraan masyarakat yang mana?, maka disitulah perlu transparansi atau keterbukaan, akan tetapi pada dasarnya adalah bahwa seluruh masyarakat Bogor harus sejahtera.

Lalu apa hubungannya dengan pembangunan masyarakat Kabupaten Bogor ?….jawabnya : tentu hubungannya sangat erat sekali, sebab seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa slogan itu melekat pada masyarakat Kabupaten Bogor bukan saja melekat sebagai individu akan tetapi melekat pada masyarakat secara keseluruhan, dalam konteks itu maka pelaku pembangunan yaitu Pemerintah, Swasta dan Masyarakat itu sendiri berkontribusi pada tebentuknya persepsi terhadap slogan Biar Tekor Asal Sohor itu.

Selanjutnya, untuk kali ini penulis akan mencoba mengurai pandangan positif dari sudut pandang Pemerintah Daerah, sehingga bahasan yang akan diurai selanjutnya, dicoba dilihat dari sisi pembangunan masyarakat Kabupaten Bogor yang implementasinya melalui Rencana Pembangunan Daerah baik Rencana Pembangunan Jangka Menengah maupun Rencana Pembangunan Jangka Pendek yang operasionalnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Sebagai awal bahasan, bahwa slogan Biar Tekor Asal Sohor tidak terlepas dari kultur masyarakat Kabupaten Bogor, wilayah ini terbentuk karena adanya satu kesatuan masyarakat yang berbudaya, oleh sebab itu proses pembangunannya tidak terlepas dari perjalanan sejarah yang mengikutinya. Menilik perkembangan sejarahnya, dalam berbagai literatur seperti buku Sejarah Bogor dll, diantaranya menyebutkan bahwa masyarakat Bogor berasal dari sembilan kelompok pemukiman yang pada tahun 1745 digabungkan oleh Gubernur Baron Van Inhof menjadi inti kesatuan masyarakat Kabupaten Bogor.

Pada waktu itu Bupati Demang Wartawangsa sedang berupaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan rakyat yang berbasis pertanian, dengan cara menggali terusan dari Ciliwung ke Cimahpar dan dari Nanggewer sampai ke Kalibaru/Kalimulya. Penggalian untuk membuat terusan kali dilanjutkan di sekitar pusat pemerintahan, yang pada saat itu masih di Tanah Baru. Pada tahun 1754, Bupati Demang Wartawangsa mengajukan permohonan kepada Gubernur Jacob Mossel agar diizinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati di dekat “Buitenzorg”. Kelak karena di depan rumah Bupati Bogor tersebut terdapat sebuah kolam besar (empang), maka nama “Sukahati” diganti menjadi “Empang”.

Ada beberapa pendapat tentang asal kata ”Bogor”. Pendapat pertama bahwa Bogor berasal dari salah ucap orang Sunda untuk “Buitenzorg” yaitu nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda, yang mengira lidah orang Sunda sedemikian kakunya dengan mengambil perumpamaan melesetnya “Batavia” menjadi “Batawi”. Pendapat kedua adalah bahwa Bogor berasal dari kata Bahai atau Baqar yang berarti sapi, dengan alasan terdapat bukti berupa patung sapi di Kebun Raya Bogor. Sebagian lain berpendapat bahwa Bogor berasal dari kata Bokor yaitu sejenis bakul logam, atau memang asli bernama Bogor yang berarti ‘tunggul kawung’ (tunggul pohon enau/aren).

Nama Bogor juga sudah ditemukan pada sebuah dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut tercantum nama Ngabei Raksacandra sebagai “hoofd van de negorij Bogor” (kepala kampung Bogor), yang mana pada tahun tersebut ibu kota Kabupaten Bogor masih berkedudukan di Tanah Baru.

Perjalanan sejarah Kabupaten Bogor memiliki keterkaitan yang erat dengan zaman kerajaan yang pernah memerintah di wilayah tersebut. Berdasarkan catatan dari Dinasti Sung di Cina, menunjukkan bahwa pada paruh awal abad ke-5 Masehi di wilayah tersebut telah ada sebuah bentuk pemerintahan yang disebut Kerajaan Holotan, yang telah mengirimkan utusannya ke Cina beberapa kali.

Sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana menyimpulkan bahwa Holotan adalah transliterasi Cina dari kata Aruteun. Diduga Kerajaan Aruteun adalah nama asli Kerajaan Taruma. Setelah mendapat pengaruh budaya India, nama Aruteun diubah menjadi Taruma yang diambil dari nama daerah di India Selatan. Perubahan nama ini diperkirakan terjadi pada akhir abad ke-5 Masehi karena sejak abad ke-6 Masehi, nama Ho-lo-tan (Aruteun) tidak disebut-sebut lagi. Sebagai gantinya muncul nama To-lo-mo (Taruma) yang pernah beberapa kali mengirimkan utusannya juga ke Cina. Kerajaan Tarumanagara adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia, dengan rajanya yang terkenal yaitu Raja Purnawarman.
Setelah Kerajaan Tarumanegara (358 – 699 M) berakhir, kemudian muncul kerajaan-kerajaan lain yang berkuasa di wilayah ini, antara lain yaitu :
1. Kerajaan Galuh, berkuasa sejak 516 – 852, diperintah oleh 14 raja.
2. Kerajaan Sunda, berkuasa sejak tahun 669 – 1333, diperintah oleh 28 raja.
3. Kerajaan Padjadjaran berkuasa sejak tahun 1482 – 1579.

Sri Baduga Maharaja dikenal sebagai raja yang mengawali zaman kerajaan Padjadjaran, dikenal dengan ”ajaran dari leluhur yang dijunjung tinggi, yang mengejar kesejahteraan”.

Ajaran ini sangat dipatuhi oleh rakyatnya pada masa itu, dan mungkin saja dari sini pula palsafah Biar Tekor Asal Sohor muncul sebagai bagian dari pengejawantahan ajaran tersebut. Konon dari ajaran itu pula yang mendorong berbagai pekembangan kebudayaan dan kehidupan masyarakat Bogor yang sampai sekarang masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat, diantaranya Kampung Budaya Sindang Barang di Kecamatan Tamansari, Kampung Adat Urug di Kecamatan Sukajaya dan beberapa tempat lainnya.

Dalam pandangan modern sekarang ini, bagaimana sebenarnya kita memaknai palsaf ah itu dan menjalankannya atau mengoperasionalkannya dalam berbagai kebijakan pembangunan yang mengedepankan kesejahteraan masyarakat, dalam konteks pembangunan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bogor.

Comment

News Feed