by

Ini Kisah Imigran Rayakan Lebaran di Puncak

BOGOR-Sembilan belas tahun sudah, Ali seorang imigran asal Iran, merayakan Hari Raya Idul Fitri di negeri orang. Yakni di Kampung Cipari, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Pahitnya merayakan hari raya jauh dari keluarga dan sanak saudara harus dirasakannya. Karena lamanya tinggal di Indonesia, pria asal Timur Tengah itu sudah memiliki keluarga.

Ali merupakan satu dari ratusan imigran asal Timur Tengah yang memiliki nasib kurang beruntung di antara rekannya. Pasalnya, rekan seperjuangannya kini sudah tinggal nyaman di negara tujuan melalui jalur deportasi hingga program kedutaan dari pemerintah asalnya. Bahkan, rekan-rekannya sudah memiliki kehidupan yang jauh lebih layak ketimbang dirinya.

Tak memiliki penghasilan untuk menyambung hidup di negara orang mengharuskan Ali bekerja demi mengejar asa. Alhasil, lantaran penantian panjang yang mesti dilaluinya membuat Ali memutuskan diri meminang gadis desa tempat di mana ia tinggal. Ia pun memutuskan bekerja sebagai buruh di salah satu hotel di kawasan Puncak demi keluarga tercintanya. “Saya harus kerja menjadi satpam di salah satu hotel. Semua itu saya lakukan untuk hidup saya dan anak istri saya,” ujar Ali yang sudah fasih berbahasa Indonesia.

Hingga kini, Ali sudah dikaruniai empat anak hasil pernikahannya dengan gadis Kampung Cipari, Kelurahan Cisarua. Ali yang kini sudah tinggal selama 19 tahun di kawasan tersebut, hanya bisa pasrah menunggu nasib baik menghampirinya. Berharap mendapat program negara ketiga seperti rekan-rekannya hingga program deportasi dari negara asalnya adalah mimpi Ali yang selama ini dinanti.

Senada dengan Ali, imigran lainnya, Abal Razak (46) asal Pakistan, harus meninggalkan keluarganya di Pakistan akibat perang di negaranya. Ia berangkat dari Pakistan bersama temantemannya untuk mencari perlindungan. Tinggal di Cisarua, Abal Razak menempati kontrakan dengan menyewa satu petak Rp500 ribu setiap bulannya.

Untuk menyambung hidupnya, Abal Razak hanya berjualan roti bakar untuk para imigran yang tinggal di kamar-kamar kontrakan di Kampung Citeko Pentas, RT 02/03, Desa Citeko, Kecamatan Cisarua. ”Istri dan keempat anak saya masih di Pakistan. Saya ke Indonesia bersama teman-teman saya akibat konflik di Pakistan,” kata Abal Razak kepada Metropolitan.

Abal Razak sudah enam tahun menetap di Cisarua. Saat menjalani ibadah puasa kemarin, lelaki berbadan besar itu rutin salat Tarawih bersama warga sekitar, serta mengeluarkan zakat fitrah. Begitu juga saat perayaan Idul Fitri, Abal Razak mengikuti tradisi warga sekitar untuk bersilaturahmi. Abal Razak datang ke Puncak, Bogor, pada 15 Juli 2013. Ia tinggal sendiri selama enam tahun. Namun, Abal Razak tidak mendapatkan dana kompensasi dari IOM atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), tidak seperti imigran lainnya. ”Karena istri saya buka usaha, saya setiap bulannya dibantu oleh istri saya,” kata Abal Razak.

Sebelum mengungsi, Abal Razak sempat memiliki usaha impor barang di Pakistan. Namun adanya konflik berkepanjangan, tempat usahanya tersebut dibakar hingga tidak bersisa. Beruntung, keluarga dan istrinya masih selamat. Abal Razak kini berencana melanjutkan perjalanannya ke Amerika dan negara-negara lain yang berkembang. Untuk mewujudkan mimpinya, setiap hari ia rajin mengikuti kursus bahasa Inggris yang diselenggarakan yayasan. ”Saya masih kursus bahasa Inggris bersama imigran lainnya, yang tidak jauh dari tempat saya menetap,” tutur Abal Razak dengan terbata-bata.

Sementara itu, Ketua RT 04/04, Kampung Cipari, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Sopan, menjelaskan kini di Kelurahan Cisarua sedikitnya ada 121 imigran asal Timur Tengah. Seperti Iran, Irak, Pakistan, Afghanistan, Turki dan Syuriah. Menurutnya, para imigran tersebut tinggal di wilayahnya sudah belasan tahun. ”Sejak belasan tahun silam, para imigran sudah bisa berbaur dengan masyarakat dan warga sekitar. Warga imigran yang tinggal di sini merupakan asli imigran. Mereka bisa tinggal di sini tapi tidak bisa menjadi Warga Negara Indonesia seutuhnya,” katanya.

Ia bercerita, maraknya kedatangan imigran ke kampungnya dimulai sejak 2000 silam. Imigran yang tinggal hingga puluhan tahun itu terletak di Desa Tugu Selatan di kawasan Ciburial, lebih tepatnya di kawasan Cokro. Di sana mereka tinggal hampir puluhan tahun, bahkan sampai berkeluarga dan menetap di kawasan tersebut.

Berdasarkan pengalaman warganya, ratusan imigran yang tinggal di kawasan Puncak hanya menjadikan tempat tersebut sebagai tempat peristirahatan sementara. Nantinya ratusan imigran itu akan mengikuti program dari kedutaannya masingmasing, untuk kemudian ikut pindah menjadi warga negara yang baru, sesuai ketetapan dan ketentuan kedutaannya masingmasing. ”Ini kisah nyata dari warga saya. Imigran yang ada di sini dan yang tinggal di Puncak, kebanyakan hanya menjadikan kawasan ini sebagai tempat transit saja. Nantinya mereka akan ikut program menjadi warga negara lain. Kemarin saja warga imigran saya jadi warga negara Australia, ada juga yang jadi warga Irak. Semuanya tergantung kedutaan negara asalnya, mau pilih negara mana. Tapi ada juga yang kembali ke negara asalnya,” ungkapnya.

Dari para imigran yang tinggal di Puncak, tidak semuanya memiliki nasib tak beruntung. Sopan juga bercerita, dari 121 imigran yang ada di kampungnya, Ali merupakan imigran terlama yang pernah tinggal di wilayahnya. Bahkan Ali juga sudah fasih berbicara bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Dirinya juga merasa iba dengan apa yang menimpa Ali lantaran nasibnya yang tak seberuntung dengan rekan lainnya.

Kendati demikian, Sopan mengenal Ali merupakan sosok imigran yang baik dan mudah bergaul dengan warga. Bahkan Ali juga tidak tertutup dengan warga, tak seperti imigran lain pada umumnya. Ia juga dikenal sebagai ayah yang baik kepada keluarga dan sanak saudara dari pihak istri. ”Ali adalah imigran yang baik. Ia pandai bergaul dengan masyarakat, penyayang juga kepada keluarga. Dia juga ikut berbaur dalam perayaan Lebaran kemarin. Kayak warga pada umumnya saja gitu,” tutupnya.

Terpisah, Kepala Sub Seksi Teknologi Informasi Keimigrasian, Dody Permana, mengaku pihaknya merasa kesulitan untuk mengetahui jumlah pasti imigran yang ada di wilayah Bogor, baik kota maupun kabupaten. Kendati demikian, untuk mengetahui jumlah pasti imigran yang ada di wilayahnya, pihak imigrasi menerapkan sistem aduan SMS bagi masyarakat guna memudahkan penghimpunan jumlah imigran di Bumi Tegar Beriman dan Kota Hujan. ”Kalau untuk jumlah pasti susah ditebak, karena mereka tidak memiliki tempat permanen. Mereka suka berpindah tempat, tidak diam di satu tempat, tapi masih di wilayah Bogor. Secara umum data yang kami terima itu ada yang melalui SMS di aplikasi kami. Ada sekitar 1.741 imigran yang tersebar di Kota dan Kabupaten Bogor,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Tak hanya itu, guna memudahkan pendataan imigran, pihaknya juga kerap bekerja sama dengan pemerintah desa hingga kecamatan. Namun kendala kerap dialami pihaknya. Kantor imigrasi hanya menerima update pertambahan, namun tidak untuk informasi pengurangan. ”Kalau untuk pemerintah desa, kelurahan hingga kecamatan, kita sering koordinasi. Tapi terkait jumlah pastinya selalu berubah-ubah. Soalnya kita hanya menerima data ketika ada yang baru. Sedangkan ketika imigran tersebut pergi meninggalkan desa, kita tidak menerima laporannya. Kadang juga kami hanya menerima SMS laporan hanya sebatas alamat saja. Tidak lengkap seperti nama kampung desa dan RT/RW,” bebernya

Menurutnya, tren imigran secara umum sangat tak menentu. Pasalnya, kedatangan imigran sangat bergantung dengan kondisi di luar negeri sana. Meski begitu, ia meyakini tren kedatangan imigran kerap mengalami peningkatan di setiap tahunnya. ”Tren kenaikan dan penurunan imigran selalu berkaitan dengan kondisi di luar negeri sana, seperti konflik, peperangan, kemiskinan, kesenjangan sosial dan lain sebagainya. Itu juga sejumlah faktor yang dapat memengaruhi tren kenaikan dan penurunan imigran. Kalau untuk tren kenaikan, jelas selalu ada setiap tahunnya. Tapi kita tidak bisa pastikan berapa jumlah pasti angka kenaikannya,” pungkasnya.

 

 

 

Comment

News Feed