by

Komoditas Holtikultura

Oleh: Hj. Ade Yasin, SH, MH

(Bupati Bogor 2018-2023)

Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian 2018 mengalami pertumbuhan 5,3 persen atau setara dengan Rp395,7 triliun. Angka tersebut naik dari Rp375,8 triliun pada 2017. Ya, ekspor hortikultura seperti sayuran, buah dan bunga asal Indonesia memang tengah naik daun.

Secara spesifik, data Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan selama 2018 lalu, ekspor sayuran naik 4,8 persen, ekspor bunga naik 7,03 persen, sementara ekspor buah naik signifikan 26,27 persen. Dengan negara tujuan ke 113 negara.

Selain tumbuh positif, peran sektor pertanian dalam pertumbuhan ekonomi nasional juga semakin penting dan strategis, hal ini terlihat dari kontribusi pertanian yang terus meningkat. Untuk diketahui, tahun 2014, kontribusi sektor pertanian untuk pertumbuhan ekonomi nasional (termasuk kehutanan dan perikanan) bertengger di angka 13,14 persen dan meningkat jadi 13,53 persen di 2017.

Jika diperhitungkan juga industri agro dan penyediaan makanan dan minuman yang berbasis bahan baku pertanian kontribusinya bisa mencapai 25,84 persen terhadap perekonomian nasional di 2014, dan meningkat menjadi 26,1 persen pada 2017.

Kabupaten Bogor, juga menyumbang produk domestik bruto untuk perekonomian nasional khususnya dari komoditas hortikultura. Buah-buahan misalnya. Petani Bogor juga sukses mengembangkan buah-buahan tropis yang berkualitas untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.

Pisang Raja Bulu Kuning menembus 34.538 ton. Pisang jenis ini dikembangkan oleh petani di wilayah Caringin, Ciawi, Megamendung, Cariu, Tanjungsari, Pamijahan dan Leuwisadeng. Kemudian durian Matahari dan Sihepe menembus 17.779 ton. Jonggol, Sukamakmur, Cariu, Tanjungsari, Cigudeg, Rumpin, Leuwiliang, Leuwisadeng, Cigombong dan Caringin adalah wilayah yang memproduksi durian jenis ini.

Selain itu, buah Kemang mencapai 650 ton. Wilayah Kabupaten Bogor bagian barat penyumbangnya. Kemudian, Belimbing Dewi sebanyak 7.126 ton. Belimbing ini dibudidayakan di Tajurhalang dan Bojonggede.

Pepaya Calina sebanyak 6.215 ton dan banyak dibudidayakan di Rancabungur, Jasinga, Cigudeg, Tenjo, Caringin, Cibungbulang, Sukaraja serta Cibinong. Nanas Mahkota sebanyak 2.765 ton dari wilayah Cijeruk, Tamansari, Cigombong dan Leuwiliang.

Jambu kristal sebanyak 7.145 ton. Jambu ini berada di Rancabungur, Dramaga, Kemang, Caringin, Cijeruk, Cigombong, Tenjolaya, Pamijahan, Tajurhalang dan Bojonggede. Kemudian Manggis sebanyak 7.126 ton, berada di Jasinga, Leuwiliang, Leuwisadeng, Cigudeg, Sukamakmur, Sukajaya, Nanggung dan Klapanunggal.

Komoditi hortikultura lain yang potensial untuk dikembangkan adalah talas, jagung, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, tanaman obat, melati, sedap malam, krisan, gladiol dan mawar. Semua komoditas hortikultura akan dioptimalkan produksinya. Saya juga sudah bekerjsama dengan IPB University.

Komoditi hortikultura ini harus jadi salah satu roda penggerak ekonomi di Kabupaten Bogor. Bersamaan dengan hadirnya desa wisata. Sebab, pariwisata dan pertanian setali tiga uang. Bisa meningkatkan perekonomian daerah dan dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Perpaduan antara wisata dan pertanian adalah suatu inovasi untuk menarik perekonomian, menanggulangi kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan.

Oleh karena itu, semua stakeholder harus terlibat. Termasuk pengusaha. Membangun desa yang berpotensi jadi tempat wisata pertanian. Target kita kunjungan wisata ke Kabupaten Bogor bisa mencapai 10 juta wisatawan. Masyarakat pedesaan di Kabupaten Bogor harus sejahtera melalui sektor pariwisata dan pertanian. (*)

Comment

News Feed